Belum Pernah Ditetapkan, Pakar Gali Hari Jadi DPRD Nganjuk

  • Whatsapp
Seminar penelusuran sejarah hari jadi DPRD Nganjuk digelar Rabu 21 Oktober 2020

NGANJUK – DPRD Nganjuk rupanya punya sejarah tersendiri di luar hari jadi kabupaten. Institusi para wakil rakyat Kota Angin itu disebut-sebut sudah ada sejak zaman kolonial Belanda.

Hal ini terungkap dalam seminar khusus menggali sejarah Hari Jadi DPRD Kabupaten Nganjuk, yang digelar Rabu 21 Oktober 2020, di ruang sidang utama DPRD setempat.

Tiga pakar dihadirkan untuk membahas seluk-beluk sejarah DPRD Nganjuk. Mereka masing-masing Prof Aminudin Kasdi, Guru Besar Sejarah Unair Surabaya, lalu Drs Sukadi M.MPd, penggiat sejarah dan budaya Nganjuk, serta pemerhati sejarah dari komunitas pecinta sejarah Nganjuk (Kotasejuk).

Salah satu narasumber, Sukadi mengatakan, ia telah melakukan kajian mandiri untuk menguak sejarah DPRD Kabupaten Nganjuk. Hal ini dituangkannya dalam jurnal berjudul “Sejarah Cikal Bakal Nama Anjukladang”.

Menurut hasil penelusurannya, DPRD Nganjuk sudah ada sejak 1 Januari 1929. Hal ini berdasarkan Staadsblad No.310 tanggal 9 Agustus 1928.

“DPRD Kabupaten Nganjuk saat itu beranggotakan 21 orang yang terdiri dari orang Belanda, orang Cina, penunjukkan dan perwakilan dari 5 distrik di Nganjuk,” kata Sukadi.

Kelima distrik itu adalah Distrik Lengkong 1 orang, Distrik Kertosono 2 orang, Distrik Warujayeng 3 orang, Distrik Nganjuk 3 orang, dan Distrik Berbek 2 orang.

“Perwakilan dilaksanakan secara pilihan dan DPRD Nganjuk saat itu dipimpin langsung oleh Bupati Nganjuk,” urai Sukadi.

Stevano Rudi, dari Komunitas Kota Sejuk Stevano berbicara hal senada. Menurutnya, cikal-bakal hari jadi DPRD Kabupaten Nganjuk jatuh pada 1 Januari 1929. Kemudian, diatur lagi dalam UU Nomor 22 tahun 1948 tentang Pemerintahan Daerah.

Rudy memaparkan, pada Pemilu DPRD pertama di Nganjuk tahun 1955, memperebutkan 35 kursi, yakni 13 kursi PNI, 11 kursi PKI, 7 NU, 2 Masjumi, 1 perwari dan 1 ilmu Sejati dan hal itu di atur dalam UU No.12 tahun 1950 yang diberlakukan sejak 8 Agustus 1950.

Sementara itu, Prof Aminudin Kasdi lebih memilih mempelajari sejarah hari jadi DPRD Nganjuk dari berbagai kriteria dan sudut pandang. Yaitu dari penanggalan yang tertua, hingga arti dan makna dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Aminudin memetakan sejarah DPRD Nganjuk berdasarkan sudut pandang (view of standpoint) masanya, yaitu pada masa UU dan peraturan pada zaman Hindia Belanda, masa UU setelah proklamasi kemerdekaan, dan masa menurut tradisi bangsa yang pernah hidup (overlevering).

“Dari ke tiga hal tersebut, jika dibedah belum diketahui tanggal bulan dan tahun yang pasti yang ditetapkan sebagai hari jadi DPRD Kabupaten Nganjuk.

Ketua DPRD Nganjuk Tatit Heru Tjahjono selaku ruan rumah mengatakan, seminar ini digelar setelah sebelumnya melakukan diskusi-diskusi kecil, dengan para pegiat budaya, LSM dan media.

“Akhirnya kami tindaklanjuti dengan mengadakan seminar ini dan mendatangkan narasumber yang kompeten di bidangnya,” kata Tatit.

Tatit optimis seminar nantinya akan menghasilkan kajian valid terkait hari jadi DPRD Nganjuk.

“Sehingga minimal bisa sebagai acuan dasar dalam melaksanakan tugas agar menambah spirit dan mengetahui  DPRD di fase dahulu fungsinya apa saja,” harapnya.

Menurutnya, menilik dari fungsi sejarahnya Tatit berharap hendaknya DPRD lebih memaksimalkan kinerjanya dari tiga fungsi yang sudah dimiliki sekarang, yaitu fungsi legislasi, budgeting dan pengawasan.

Panji LS

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *