Buntut Kasus Ujaran Kebencian, JRX SID Dituntut 3 Tahun Penjara

  • Whatsapp
Terdakwa I Gede Ary Astina alias Jrx (tengah) dalam persidangan di PN Denpasar, Selasa (3/11/2020). (Antara)

DENPASAR, Zonahitam.com, – I Gede Ary Astina alias Jrx menjalani sidang tuntunan di Kejakasaan Tinggi Bali hari ini, Selasa (3/11/2020) . Pada sidang kali ini Jaksa Penuntut menuntut terdakwa Jrx tiga tahun penjara karena telah melanggar pasal UU ITE dan KUHP.

Otong Rahayu sebagai koordinator jaksa penuntut, di Pengadilan Negeri Denpasar, menuntut Jrx tiga tahun penjara dengan denda Rp 10 juta.
“Menuntut, menjatuhkan pidana terhadap terdakwa Jrx dengan pidana penjara selama tiga tahun, denda Rp10 juta subsider tiga bulan kurungan dikurangi selama terdakwa berada dalam tahanan,” ucap Otong.
Otong juga mengatakan adapun hal-hal yang memberatkan yaitu terdakwa tidak menyesali perbuatannya, terdakwa pernah walk out di persidangan, perbuatan terdakwa meresahkan masyarakat, perbuatan terdakwa melukai perasaan dokter seluruh Indonesia yang menangani pasien Covid-19.
Sedangkan hal-hal yang meringankan yaitu terdakwa belum pernah dihukum, terdakwa mengakui perbuatannya, terdakwa masih muda dan masih bisa dilakukan pembinaan.
Diketahui sebelumnya Ketua IDI wilayah Bali yaitu saksi, Dr I Gede Putra Suteja, melaporkan pemiliki akun instagram @jrxsid ini ke Polda Bali. Akibat postingan Jrx yang dianggap melakukan ujaran kebencian.
“Bahwa terdakwa secara sengaja membuat postingan pada media instagram melalui akum @jrxsid, karena terdakwa mengetahui postingan itu akan mendapatkan perhatian dari masyarakat banyak dan menjadi ramai di media sosial serta memperoleh komentar yang beragam, oleh karena terdakwa adalah publik figur sebagai anggota band Superman Is Dead (SID), yang memiliki fans cukup banyak tersebar di seluruh Indonesia bahkan sampai mancanegara,” ucap Otong.
Sebelumnya, dalam dakwaan jaksa menjelaskan bahwa awalnya, postingan akun Instagram @jrxsid 13 Juni 2020 berisi postingan kata-kata:
gara-gara bangga jadi kacung WHO, IDI dan RS seenaknya mewajibkan semua orang yang akan melahirkan dites COVID-19. Sudah banyak bukti kalau hasil tes sering ngawur kenapa dipaksakan? Kalau hasil tesnya bikim stress dan menyebabkan kematian pada ibu/bayinya. Siapa yang tanggung jawab?” Kemudian terdakwa menulis di kolom komentarnya @jrxsid, “Bubarkan IDI saya gak akan berhenti menyerang kalian @ikatandokterindonesia sampai ada penjelasam perihal ini. Rakyat sedang diadu domba dengan IDI/RS? Tidak, IDI dan RS yang mengadu diri mereka sendiri dengak hak-hak rakyat“.
Selanjutnya, dalam dakwaan pada 15 Juni 2020, akun @jrxsid kembali membuat postingan dengan kata-kata
Tahun 2018 ada 21 Dokter Indonesia yang meninggal. Ini yang terpantau oleh media saja ya. Sayang ada konspirasi busuk yang mendramatisir situasi seolah Dokter meninggal hanya tahun ini agar masyarakat ketakutan berlebihan terhadap CV19. Saya tahu darimana? Silahkan salin semua link yang ada di foto, post di FB/IG anda. Lalu lihat apa yang terjadi! Masih bilang CV19 bukan konspirasi? Wake the fuck up Indonesia!“.
Persidangan selanjutnya akan dilaksanakan pada Selasa, (10/11) dengan agenda pembelaan (pledoi) dari terdakwa bersama penasehat hukumnya. (Berliana/Panji)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *