Cinta Benda Sejarah, Pria Nganjuk Ini Sulap Rumahnya Jadi Museum

  • Whatsapp
Aries saat menunjukkan koleksi benda-benda purbakala di museum mini miliknya (foto : A. Bahar-zonahitam.com)

NGANJUK – Berawal dari keinginan melestarikan situs bersejarah di Kecamatan Ngetos, Kabupaten Nganjuk, Aries Trio Effendi, 41, seorang pegiat sejarah asal Desa Ngetos, Kecamatan Ngetos, secara sukarela mengoleksi ratusan benda kuno.

Di rumahnya, Aries memiliki koleksi benda-benda dari zaman prasejarah, klasik, hingga era kolonial Belanda. Huniannya kini tak ubahnya museum mini. Benda-benda koleksinya sebagian telah teregistrasi di Kemendikbud RI.

“Saya senang dengan benda kuno ini berawal dari banyaknya artefak yang berserakan di sekitar candi ngetos. Kemudian saya kumpulkan untuk dilakukan perawatan. secara bertahab, saya suka benda kuno kini tak terasa sudah sekitar 20 tahun,” kata Aries saat ditemui di rumah merangkap museum mini miliknya, Rabu (21/10).

Jenis benda bersejarah di rumah Ariea cukup beragam. Di antaranya fosil kerang laut purba, batu dari sisa bangunan candi, umpak, timbangan batu, lumpang kecil, alat berburu manusia purba, hingga uang koin dari beberapa masa.

“Benda-benda ini sengaja saya kumpulkan dan simpan agar tidak punah atau musnah termakan zaman,” imbuh Aries.

Tak jarang orang datang untuk membeli benda purbakala miliknya. Bahkan sampai ditawar jutaan rupiah. Namun Aries tidak bersedia menjualnya.

“Pernah ada yang menawar benda purbakala milik saya puluhan juta rupiah. Namun saya lebih senang mengoleksi benda purbakala ini,” kata Aries.

Koleksi di museum mini milik aris ini juga sudah dikoordinasikan dengan Museum Anjuk Ladang milik Pemkab Nganjuk. Tujuannya agar dapat digunakan oleh masyarakat untuk menambah wawasan terutama pelajar dan mahasiswa.

“Fosil kerang laut saya peroleh dari hutan nganjuk sebelah utara sebagian mencari sendiri sebagian diberikan orang, dari pada tidak terawat,” kata Aries.

Ia berharap agar seluruh benda kuno miliknya dapat segera teregistrasi. Dan berharap kepada masyarakat agar lebih mencintai benda purbakala agar terhindar dari kerusakan.

Penulis : A. Bahar
Editor : Panji

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *