Dosen UI Kembangkan Termometer Otomatis Agar Lebih Praktis

  • Whatsapp
Ilustrasi termometer otomatis yang dikembangkan dosen Universitas Indonesia. (Dok Pri)

JAKARTA, Zonahitam.com, – Dosen Departemen Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Indonesia Dr Ir Tomy Abuzairi ST MSc MT PhD mengembangkan termometer otomatis yang bermanfaat untuk melakukan “screening” COVID-19.

Menurut penelitian, termometer yang membutuhkan operator tersebut biasanya kurang optimal, karena tergantung subjektivitas dari operator. Selain itu, jarak yang dekat dengan operator termometer juga menyebabkan operator rentan tertular COVID-19 dari pengunjung.

“Pada era normal baru, merupakan hal yang lumrah dilakukan pemeriksaan suhu. Pada umumnya menggunakan termometer guna atau handheld, yang mana membutuhkan seorang operator untuk mengoperasikannya,” ujar Tomy dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (4/11/2020).

Untuk mengatasi masalah tersebut, Tomy membuat terobosan dengan menciptakan termometer otomatis tanpa memerlukan bantuan operator.

Termometer otomatis tersebut dilengkapi dengan sensor jarak, sehingga ketika jarak orang yang ingin diukur suhunya sudah dekat, maka sensor suhu akan mulai mengukurnya.

Termometer itu dilengkapi dengan LED hijau dan merah untuk memberi tahu suhu tubuh. Jika suhu tubuh normal maka LED hijau menyala, sedangkan jika suhu tubuh tinggi maka LED merah dan alarm menyala selama lima detik.

Tomy menambahkan selain dapat mendeteksi otomatis, alat itu juga didesain supaya memiliki harga yang terjangkau. “Untuk pembuatan purwarupa alat ini, dibutuhkan biaya sekitar Rp500.000,” terang dia.

Termometer tersebut saat ini baru diimplementasikan di tempat-tempat percontohan dan dipantau fungsionalitasnya.

Uniknya, termometer tersebut dapat beroperasi selama dua hari tanpa perlu baterainya diisi ulang.

Termometer tersebut didukung program Hibah Iptek bagi Masyarakat (IbM) 2020 dari Direktorat Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Universitas Indonesia.

“Untuk kekurangannya sendiri, masih dari sisi casing yang mana masih menggunakan 3D printer, dan membuat harganya menjadi lebih mahal. Jika sudah diuji fungsionalitasnya dan terbukti baik maka ke depannya casing bisa diproduksi massal, sehingga harganya lebih murah,” imbuh Tomy. (Antara/Berliana/Panji)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *