Kartu Tani Belum Terbit, Petani Nganjuk Masih Gigit Jari

  • Whatsapp
Ilustrasi : Petani menjerit kala Pupuk subsidi belum ada (Dok ZH).

NGANJUK, – Salah satu inovasi Presiden Republik Indonesia (RI) Joko Widodo di bidang pertanian, yakni program Kartu Tani, ditargetkan sudah bisa berjalan Bulan September 2020 ini, di seluruh Jawa Timur.

Sayangnya, program berupa pembelian pupuk subsidi secara non tunai itu dan memang sangat ditunggu -tunggu petani Khususnya Kabupaten Nganjuk belum bisa dilakukan.

Bacaan Lainnya

“Yang kami harapkan mudahnya pembelian pupuk subsidi, karena kita (petani) selama ini sangat terpaksa membeli pupuk non subsidi, yang jadi pertanyaan pupuk subsidi di Nganjuk dijual kemana?, kalau ada karti tani kapan akan diberikan?,” terang Parji salah petani Nganjuk. Selasa (22/9/2020).

Dengan susahnya pupuk bersubsidi, dikatakan Parji, sebagai petani membuat pupuk kompos dioplos dengan pupuk non subsidi, itupun hasilnya belum diketahui bagus dan tidaknya untuk tanaman.

“Kalau tidak ada pupuk subsidi, kami harapkan ada pelatihan pembuatan pupuk alternatif (organik), agar petani tidak selalu berharap pada pupuk kimia karena harga kalau tidak ada subsidi jauh lebih mahal,” katanya.

Untuk kartu tani di Nganjuk diharapkan Parji, segera bisa diterbitkan agar petani bisa membeli pupuk subsidi.

Disamping itu Pemerintah Daerah (Pemkab) punya acuan Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok Pupuk Bersubsidi (RDKK Pupuk Bersubsidi) yang diajukan ke ke Kementerian Pertanian (Kementan).

“Kalau bisa kartu tani segera diterbitkan atau paling tidak mudahkan petani beli pupuk subsidi,” ungkapnya.

Sementara, Kepala Dinas Pertanian, Judi Ernanto, menerangkan bahwa persiapan untuk program kartu tani yang sebenarnya sudah direncanakan dan jadi wacana sejak 2017. Namun dia mengakui, di Kabupaten Nganjuk sampai sekarang masih belum matang.

Alasan lain, kalau pembagian kartu kepada seluruh petani di Kabupaten Nganjuk belum merata. Selain itu, terkendala kebutuhan pupuk para petani dan persediaan di kios belum bisa memenuhi.

“Data petani dan luas lahan masing-masing petani sudah ada, namun kebutuhan pupuk di kios-kios belum memenuhi kebutuhan pupuk para petani,” katanya.

Untuk sementara pupuk subsidi yang dikirimkan ke Kabupaten Nganjuk, ditegaskan Judi, hanya mendapatkan 50 persen dari permintaan yang pihaknya ajukan ke pusat. Hal tersebut disebabkan, biaya subsidi pupuk terkena refocusing Covid-19.

“Jadi, untuk penggunaan kartu tani sebagai alat pembelian pupuk bersubsidi di Kabupaten Nganjuk, belum bisa dilakukan,” pungkas Judi. (Ber/Sdr/Hr/Pj).

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *