Mahasiswa Nganjuk Balas Megawati : Demo itu Sumbangsih Milenial Untuk Bangsa

  • Whatsapp
Ilutrasi Demo (Pixabay)

NGANJUK, Zonahitam.com, РPara milenial Nganjuk  mempertanyakan balik kenapa bisa terjadi demonstrasi tolak Omnibus Law kepada Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri yang sempat mengkritik aksi unjuk rasa tersebut.

Pada acara peresmian kantor PDIP secara daring,di Jakarta, Rabu (30/10/2020) Megawati mengkritik unjuk rasa yang dimotori oleh para kalangan muda dan mempertanyakan sumbangsih mereka kepada bangsa dan negara. Megawati juga meminta Presdien Joko Widodo untuk tidak memanjakan para milenials tersebut.

Bacaan Lainnya

Setelah video sang mantan presiden kelima Indonesia tersebut viral, akhirnya banyak kalangan milenial yang memberikan tanggapan. Risza Iva (23) misalnya seorang mahasiswi Universitas Surabaya memberikan tanggapan jika demonstrasi yang dilakukan oleh para milenial juga merupakan salah satu sumbangsih untuk menyuarakan suara rakyat.

“Banyak generasi milenial yang berprestasi dibidangnya masing-masing. Salah satunya yaitu para generasi milenial demonstrasi menolak UU cipta kerja, ini juga termasuk sumbangsih generasi milenial dalam membantu menyuarakan suara rakyat,” kata Risza di Nganjuk (30/10/2020).

Menurut Risza demo yang terjadi dilakukan oleh milenial karena mementingkan nasib rakyat Indonesia.

“Bukan bisanya hanya demo saja, tetapi kami melakukan demonstrasi untuk kepentingan rakyat indonesia yang malang ini. Kenapa sekarang dibilang bisanya hanya demo saja? Padahal kita tahu sendiri apa yang terjadi pada pemerintahan Indonesia, sekarang pertanyaannya saya kembalikan ke Ibu Megawati, Kenapa terjadi demo?” ucapnya.

Risza melanjutkan jika penyebab demo merupakan adanya kebijakan pemerintah yang tidak disetujui oleh masyarakat sehingga bentuk sumbangsih milenial yaitu menyuarakan keresahan dari masyarakat.

“Tentunya karena ada yang tidak disetujui oleh banyak orang atas UU yang dibuat. Hal ini menandakan bahwa generasi milenial ikut berpartisipasi dan ada sumbangsih dari kami. Jikalau kami tidak demo itu baru silahkan bertanya kepada generasi milenial apa sumbangsih kami, ” ujarnya.

Sementara jika terjadinya kerusakan selama demo berlangsung, Risza mengatakan bahwa itu bukan tujuan utama dari para pendemo , akan tetapi sebuah bentuk reaksi atas kekecawaan para pendemo.

“Lalu untuk hal merusak, sebenarnya kami hanya ingin suara kami didengar, hanya menyuarakan suara rakyat, kami tidak pernah bertujuan merusak fasilitas -fasilitas umum. Adanya fasilitas yang rusak itu pasti ada penyebabnya. Mohon maaf kami hanya ingin suara kami didengar dan ditanggapi. Mohon kerjasamanya,”

Ardita Anggraeni (22) Alumni Universitas Surabaya juga berpendapat jika generasi milenial memberikan sumbangsih dengan caranya masing-masing, misalnya di dunia olahraga.

“Untuk generasi milenial sendiri memang belum semua memberikan sumbangsih yang berarti untuk negara. Setiap orang memiliki prestasi tersendiri dengan potensi yang dimilikinya. Sebagai contoh banyak juga mahasiswa atau anak2 yang berprestasi di bidang olahraga atau seni di kancah internasional,” katanya.

Ardita menilai jika demo yang yang didominasi oleh kalangan mahasiswa tersebut terjadi karena mahasiswa sendiri merupakan kontrol sosial yang berada di barisan depan dalam mengamati isu pemerintahan.

“Adanya demo dikarenakan kinerja pemerintah yng dinilai kurang baik dan berdampak negatif bagi masyarakat. Memang yang lebih aktif adalah mahasiswa yg notabennya sebagai generasi milenial. Karena mahasiswa lebih mengerti dan peka dengan perkembangan teknologi serta adanya desas desus yang ada di pemerintahan,” ujarnya.

Menurut Ardita kegiatan merusak fasilitas umum merupakan hal yang tidak terpuji akibat kelabilan remaja. Namun ia berharap jika pemerintah bisa mengambil keputusan dengan tepat dan memikirkan kepentingan bersama agar tidak terjadi aksi-aksi anarkis lagi.

“Kalau untuk masalah demo dengan merusak fasilitas umum memang tidak dibenarkan dengan hal tersebut. Akan tetapi namanya generasi milenial kan masih labil dan bertindak sesuka hati. Oleh karena itu dimohon agar menjadi perhatian pemerintah untuk selalu mendengar aspirasi rakyat dengan mengambil keputusan yang baik dalam berbagai macam kebijakan agar tidak menimbulkan kesenjangan yang terjadi antara rakyat dan pemerintah,” tuturnya. (Berliana/Panji)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *