Menghangat, Mendagri Perancis Bahas Keamanan Dengan Tunisia dan Aljazair

  • Whatsapp
Polisi memblokir akses ke Basilika Notre-Dame di Nice setelah seorang pria yang memegang pisau menewaskan tiga orang di gereja tersebut. (Aljazeera)

PARIS, Zonahitam.com – Menindaklanjuti permasalahan yang baru-baru ini sedang ramai terjadi, Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Perancis, Gerald Darmanin mendatangi Negara Tunisia dan Aljazair untuk membahas masalah keamanan.

Kekhawatiran atas keamanan dan imigrasi meningkat di Prancis setelah serangan senjata tajam yang berakibat fatal di sebuah gereja di Nice pekan lalu.

“Akhir pekan ini akan mengunjungi Tunisia dan Aljazair untuk membahas masalah keamanan dengan mitra-mitra di sana,” kata Darmanin kepada saluran televisi BFM TV, Senin (02/11/2020).

Kepala jaksa anti terorisme Prancis mengatakan  pria yang diduga melakukan serangan senjata tajam di Nice adalah seorang warga yang lahir di Tunisia pada 1999 dan tiba di Eropa pada 20 September di Lampedusa, pulau Italia di lepas pantai Tunisia.

Lampedusa merupakan pulau terbesar di Kepulauan Pelagie dan terletak 205 kilometer dari Sisilia dan 113 km dari Tunisia.

Sebelumnya, seorang penyerang dengan meneriakkan “Allahu Akbar” memenggal kepala seorang perempuan dan membunuh dua orang lainnya dalam sebuah gereja di Nice, Kamis (29/10/2020). Insiden itu merupakan aksi teror mematikan kedua dalam dua minggu terakhir, yang kemungkinan didorong oleh paham garis keras.

Pelaku penyerangan, seseorang yang berasal dari Tunisia dan berusia 21 tahun, ditembak oleh polisi dan saat ini masih berada dalam kondisi kritis di rumah sakit.

Sejumlah penyelidik di Italia juga membantu investigasi aparat penegak hukum di Prancis, khususnya terkait kegiatan tersangka dan orang-orang yang ia hubungi di Pulau Sisilia.

Para penyelidik meyakini bahwa tersangka sempat tinggal di Sisilia setelah menyeberang dari Lampedusa ke Bari pada awal Oktober dengan menggunakan sebuah kapal yang biasanya dipakai untuk mengarantina para pengungsi, kata beberapa sumber yang tidak disebutkan namanya.

Tersangka juga diyakini mendapat surat peringatan untuk keluar dari Italia dalam waktu seminggu, kata sumber yang sama.

Para penyelidik masih mencari kemungkinan bahwa tersangka sempat tinggal di Kota Alcamo, Sisilia, selama 10 hari. (Antara/Richo/Panji)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *