Pemakai Produk Prancis : Tidak Ikut Boikot Pikirkan Nasib Pekerja di Indonesia

  • Whatsapp
Daftar produk Prancis yang diserukan untuk di boikot, tersebar di sosial media.

NGANJUK, Zonahitam.com, – Umat muslim tengah dihebohkan dengan polemik yang terjadi di Prancis, akibat penyataan dari Presiden Prancis Emmanuel Macron yang dianggap melecehkan agama Islam. Akibat merasa sakit hati dan marah akan pernyataan tersebut, umat Muslim ramai menyerukan pemboikotan produk-produk Prancis di seluruh dunia.

Bermula dari negara-negara Arab, gelombang aksi boikot produk Prancis terus meluas termasuk ke Indonesia. Beberapa hari yang lalu Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga memberikan himbuan pada umat Islam untuk memboikot semua produk asal Prancis. Hal ini akan dilakukan hingga Presiden Emmanuel Macron meminta maaf.

Bacaan Lainnya

Akan tetapi nyatanya masih banyak warga Indonesia yang tidak melakukan boikot terhadap produk Prancis. Seperti yang dikatakan oleh Beta Angelina (20) beralamat di Pasuruan, pemakai produk kecantikan Garnier dan Danone.

“Mengenai Presiden Prancis yg menghina Nabi Muhammad memang sangat disayangkan. Namun saya sebagai pengguna beberapa produk Prancis seperti Garnier dan Danone tidak ikut untuk melakukan aksi pemboikotan,” katanya.

Beta juga mengatakan jika ia tetap memakai produk Prancis karena kebutuhan dan mengkhawatirkan nasib karyawan Indonesia yang bekerja di pabrik produk Prancis.

“Produk-produk tersebut beberapa merupakan produk kebutuhan yang saya gunakan setiap hari jadi saya tetap membeli produk tersebut, selain itu aksi pemboikotan juga bisa berdampak pada pekerja pabrik seperti Aqua yg merupakan produk Danone, ditakutkan nantinya perusahan merugi dan banyak PHK,” tuturnya.

Sementara Sintia Dewi (24) alamat Malang, yang merupakan pemakai produk Aqua dari Danone juga mengatakan jika ia menyutujui seruan pemboikotan sebagai bentuk peringatan bagi Presiden Prancis, akan tetapi ia lebih setuju apabila pemboikotan dilakukan tegas dari pihak pemerintah.

“Di Indonesia ya hal seperti ini pasti banyak masa bodonya karna mereka tidak mau rugi kalau daganganya nggak habis stoknya, di mall-mall pasti merk tas kosmetiknya masih di jual kan. Harusnya langsung dari pihak pemerintah yang bergerak untuk memboikot,” kata Sintia.

Dita (22) warga Nganjuk,  salah satu pengguna produk Garnier mengatakan jika pernyataan Presiden Prancis menyakiti hati umat Muslim. Akan tetapi aksi pemboikotan harus dilakukan dengan memikirkan dampak yang lebih panjang.

“Pernyataan Presiden Prancis tidak patut dibenarkan dan sangat menyakiti hati rakyat terutama yang menganut agama Islam. Namun untuk hal ini (pemboikotan) lebih ke pribadi masing-masing bagaimana menyikapinya. Kalau pun ingin memboikot harus di pikirkan lebih panjang lagi kedepannya apa dampak yang akan terjadi selanjutnya,” terang Dita.

Dita mengatakan saat ini masih memakai produk dari Prancis akan tetapi ia mengaku jika lain kali sudah tidak akan memakai karena merasa tidak bisa menoleransi pernyataan Presiden Prancis.

“Aku pake dulu soalnya masih ada stok. Memang untuk kedepannya nggak beli lagi mungkin karena penghinaan atas agama keterlaluan tidak bisa di toleransi. Kan ada produk lain yang bisa dipakai,” tutur Dita. (Berliana/Panji)

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *