Siminimalis ‘Janda Bolong’ Laku Ratusan Juta, Dosen UNPAD : Permainan Dagang

  • Whatsapp
Sumber : Instagram @fullfoliage

Zonahitam.com, – Ada banyak kegiatan yang bisa dilakukan untuk mengisi waktu dirumah ditengah masa pandemi seperti saat ini. Salah satunya berkebun atau merawat tanaman hias menjadi alternatif yang menyenangkan untuk dilakukan.

Baru baru ini publik digemparkan bahwa tanaman hias minimalis janda bolong atau bahasa latinnya Monstera Adansoni Variegata, bisa meraup keuntungan yang fantastic, bagaimana tidak jika setiap satu pohon janda bolong dibrandol dengan harga Rp 100 Juta dan Rp 15 juta per daun.

Ramainya tanaman yang kerap kali dijadikan sebagai tanaman hias bergaya minimalis ini bahkan menarik perhatian pakar tanaman yaitu dosen Pertanian Universitas Padjajaran.

Syariful Mubarok, Dosen Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran (Unpad), Bandung, menerangkan nilai jual tanaman hias janda bolong yang mencapai ratusan juta saat ini merupakan bentuk dari permainan harga semata.

“Nilai jual janda bolong yang mencapai ratusan juta tersebut merupakan bentuk dari permainan harga semata. Sebenarnya peningkatan atau naiknya harga yang drastis bukan akibat dari sulitnya teknik budidaya yang dilakukan, ini hanya sebatas dari permainan dagang atau harga untuk tanaman hias,” jelas Syariful seperti dikutip laman ketik.unpad.a.c.id.

Ia menambahkan, fenomena ini pernah terjadi pada sekitar tahun 2007. Pada saat itu kenaikan harga fantastis pun pernah dialami oleh anthrium gelombang cinta.

“Jika sudah banyak yang produksi tanaman ini, maka akan mengakibatkan harga di pasaran menjadi turun drastis. Saya pun takut hal tersebut terjadi pada monstera ini, setelah banyak dibudidayakan dan jumlahnya meningkat dimasyarakat mengakibatkan harganya turun,” ujar Syariful yang merupakan pengajar produksi tanaman hias ini.

Populernya tanaman hias monstera ini menjadikan masyarakat untuk memanfaatkan lahan pekarangan guna budidaya tanaman hias. Namun Syariful pun menyampaikan bahwa segi buruk dari adanya fenomena ini ialah harga yang kemungkinan akan turun drastis.

“Kemungkinan akan turunnya tanaman ini disebabkan karena mulai banyaknya yang tanaman ini, sehingga pada akhirnya tidak memiliki nilai ekonomis lagi,” tandasnya.

Penulis : Berliana
Editor : Panji

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *